NEVBUZZ – Selain pembuatan mobil listrik, China juga bakal meraup keuntungan dari proses daur mobil listrik. Hal ini seiring meningkatnya volume produksi dan penjualan kendaraan bebas asap tersebut.
Berdasar data Qianzhan Industry Research Institute, pasar daur ulang baterai kendaraan listrik di China mencapai 558 miliar yuan (sekitar USD78 miliar), atau jika dikonversi menjadi mata uang Indonesia setara lebih dari 1 Kuadriliun. Disebutkan juga, bisnis ini terus berkembang bukan hanya lantaran meningkatnya volume baterai EV bekas, tetapi juga pengawasan regulasi yang lebih ketat dari pemerintah setempat.
Mengutip dari CarnewsChina, Selasa (6/1), daur ulang baterai kendaraan listrik di Negeri Tirai Bambu itu terbagi dalam dua jalur Utama, yakni pemanfaatan jalur berjenjang dan pemanfaatan material dari komponennya.
Kedua cara itu menyesuaikan dengan masa pakai, serta dilakukan dalam rantai pasok industri daur ulang baterai. Kegiatannya mencakup pengumpulan baterai bekas, pemrosesan, hingga bisa dimanfaatkan Kembali.
Pemanfaatan berjenjang berarti baterai bekas kendaraan listrik dimanfaatkan Kembali untuk aplikasi sekunder (penggunaan di barang lain). Sedangkan pemanfaatan material, komponen akan diurai terlebih dulu, lalu materialnya dipilah untuk bisa dipakai.
Rantai industri daur ulang baterai juga melibatkan para produsen baterai hulu sekaligus pemasok bahan baku, perusahaan daur ulang tengah, dan produsen material hilir. Adapun perusahaan pembuatnya, yakni CATL, BYD, Shanxi Coking, dan Yunnan Tin.
Kemudian, perusahaan daur ulang di sektor tengah meliputi Huayou Cobalt, Ganfeng Lithium, New Energy Times, dan Haopeng Technology. Sedangkan kerja pada sektor hilir berfokus pada material baterai dan metalurgi serbuk, denan melibatkan perusahaan seperti Dangsheng Technology dan Heyuan Fuma aktif di segmen pengerjaan tersebut.
