Belajar dari Kecelakaan Taksi Listrik Green SM dengan KRL di Bekasi Timur

3 Min Read
Taksi Green SM tertemper KRL di Bekasi Timur (ist)

NEVBUZZ – Kecelakaan taksi Green SM dan KRL (Kereta Rel Listrik) di Bekasi Timur menuai sorotan. Sebab, armada yang tertemper kereta merupakan mobil listrik dan diketahui mogok saat melintasi perlintasan sebidang.

Taksi listrik Green diinformasikan ‘ngunci' Ketika berada di perlintasan sebidang di Kawasan Bekasi Timur. Di saat bersamaan, melintas KRL dari arah Cikarang menuju Jakarta yang mengakibatkan kecelakaan tersebut.

Pakar Kebijakan Publik sekaligus anggota Departemen Kajian Transportasi dan Konektivitas Wilayah Himpunan Alumni IPB, Bimo Andono menilai, akar persoalan dari peristiwa viral itu justru terletak pada ketidaksiapan sistem transportasi nasional dalam menghadapi transformasi mobilitas modern.

Bimo pun menyayangkan terbentuknya narasi yang berkembang cepat di ruang publik dengan menyebut mobil listrik sebagai penyebab utamanya. Padahal anggapan itu menyesatkan dan ada hal lain untuk menjadi perhatian masyarakat luas.

“Ini bukan soal mobil listrik tidak kompatibel dengan rel kereta. Ini adalah cerminan nyata dari kegagalan kita membangun sistem transportasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi,” ujarnya dalam keterangan yang dikutip NEVBUZZ, Kamis (30/4).

Secara teknis, jelas Bimo, kendaraan listrik telah dirancang dengan standar keamanan tinggi, termasuk perlindungan terhadap gangguan elektromagnetik. Oleh karena itu, insiden berhentinya taksi listrik Green SM di atas rel lalu tertemper KRL, lebih tepat dilihat sebagai kombinasi antara faktor infrastruktur, desain perlintasan, dan kelemahan sistem keselamatan.

“Kita terlalu fokus pada hilirisasi teknologi, tetapi abai pada kesiapan ekosistemnya. Akibatnya, kebijakan menjadi tidak sinkron dan berpotensi menimbulkan risiko baru di lapangan,” papar Bimo.

Belajar dari kecelakaan mobil listrik taksi yang tertemper KRL di Bekasi Timur, Bimo mendorong pemerintah untuk segera melakukan langkah strategis yang bersifat struktural dan jangka panjang. Mulai dari eliminasi bertahap perlintasan sebidang di wilayah dengan intensitas tinggi, dan penerapan standar nasional perlintasan yang adaptif terhadap kendaraan modern.

Baca Juga :  China Wajibkan Baterai Mobil Listrik Tak Mudah Meledak dan Terbakar

Strategi lainnya, ucapnya, melalui pengembangan sistem deteksi kendaraan tertinggal di rel secara real-time, integrasi kebijakan lintas sektor antara transportasi darat dan perkeretaapian, serta penyusunan regulasi spesifik terkait keselamatan kendaraan listrik di titik rawan.

“Jangan jadikan teknologi sebagai kambing hitam. Yang perlu dibenahi adalah sistemnya. Jika tidak, kita akan terus mengulang pola yang sama dan insiden terjadi, narasi disederhanakan, tetapi akar masalah tidak pernah diselesaikan,” pungkasnya.

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *